Pada tanggal 7 Des 1941 waktu setempat, di Hawaii (Oahu), jam 07.10 dimulailah peperangan di Asia Pasifik dengan diserangnya Pearl Harbor oleh bala tentara Jepang. Armada perang ini yang didukung oleh 4 kapal induk yang membawa berbagai pesawat pembom, pembawa torpedo dan pesawat tempur (fighter) meluruk ke P. Oahu, markas utama dari Armada ke-7 AS di Pasifik.
The Day of Infamy, begitu orang Amerika suka berkata. Hari dimana mereka dipermalukan, oleh bangsa yang lebih inferior, yang dulunya belajar teknik ke AS. Pada tgl 7 Des, de facto bangsa Asia terbukti memiliki kelebihan dalam taktik, strategi dan peperangan.
Apa konsekuensi dari perang pasifik? Tentu saja Indonesia merdeka. Sesuatu yang bangsa barat tidak membayangkan sebelumnya, bahwa negara-negara Asia Tenggara bisa merdeka dari cengkeraman imperialisme barat.
Perubahan konstelasi dunia memang sudah diramalkan. Sukarno pun sudah tahu bahwa Perang Pasifik bakal pecah. Dan itulah kesempatan bangsa Indonesia merdeka. Sayangnya, modal nasional yang ditorehkan sejarah itu tidak selalu kita apresiasi dengan baik.
Kulminasi dari pertikaian budaya yang didominasi oleh bangsa barat, melawan nilai-nilai ketimuran terus berlangsung hingga sekarang. Di satu sisi, kita mengapresiasi bahwa ada bangsa Jepang yang dapat melawan hegemoni barat. Dalam 1 hari ia sanggup meluluh-lantakkan AS, sesuatu yang Spanyol, Inggris maupun Jerman tidak dapat lakukan. Katakanlah ia dicapai melalui sebuah "surprise" attack, tetapi serangan kejutan itu sendiri sudah merupakan titik balik dari hegemoni barat. Sesuatu yang selama ini dianggap tidak mungkin, kemudian menjadi mungkin.
Sayangnya, memang, Jepang hanya menjelma menjadi imperialis yang lebih sadis. Katakanlah, bila saja ia bersikap baik dan tidak membunuhi ratusan ribu orang Singapura, Malaya dan Indonesia, maka tentu ia akan mendapat simpati.
Tetapi sudah garisan sejarah bahwa kita harus begini, dan jangan lupa, sampai sekarang pun, dominasi dari ekonomi Jepang masih ada di Indonesia (lihat mobil Toyota, tv Toshiba, laptop, lemari es, dan lain-lain).
68 tahun sudah lewat dari kemerdekaan republik Indonesia. Tetapi sisa-sisa imperialisme, tidak ada nya budaya internal yang kuat, dan berbagai permasalahan yang fundamental tetap menjadi beban amanat penderitaan rakyat. Tidak adanya supremasi hukum, kekacauan dalam pendistribusian keuntungan ekonomi, dan avonturir politisi yang busuk, siap menerkam kejayaan bangsa Indonesia.
Kita bukan hanya belajar sejarah. Tetapi sudah seharusnya kita menjadikan sejarah itu modal dasar dalam menapak kehidupan kita di masa mendatang.
The Day of Infamy, begitu orang Amerika suka berkata. Hari dimana mereka dipermalukan, oleh bangsa yang lebih inferior, yang dulunya belajar teknik ke AS. Pada tgl 7 Des, de facto bangsa Asia terbukti memiliki kelebihan dalam taktik, strategi dan peperangan.
Apa konsekuensi dari perang pasifik? Tentu saja Indonesia merdeka. Sesuatu yang bangsa barat tidak membayangkan sebelumnya, bahwa negara-negara Asia Tenggara bisa merdeka dari cengkeraman imperialisme barat.
Perubahan konstelasi dunia memang sudah diramalkan. Sukarno pun sudah tahu bahwa Perang Pasifik bakal pecah. Dan itulah kesempatan bangsa Indonesia merdeka. Sayangnya, modal nasional yang ditorehkan sejarah itu tidak selalu kita apresiasi dengan baik.
Kulminasi dari pertikaian budaya yang didominasi oleh bangsa barat, melawan nilai-nilai ketimuran terus berlangsung hingga sekarang. Di satu sisi, kita mengapresiasi bahwa ada bangsa Jepang yang dapat melawan hegemoni barat. Dalam 1 hari ia sanggup meluluh-lantakkan AS, sesuatu yang Spanyol, Inggris maupun Jerman tidak dapat lakukan. Katakanlah ia dicapai melalui sebuah "surprise" attack, tetapi serangan kejutan itu sendiri sudah merupakan titik balik dari hegemoni barat. Sesuatu yang selama ini dianggap tidak mungkin, kemudian menjadi mungkin.
Sayangnya, memang, Jepang hanya menjelma menjadi imperialis yang lebih sadis. Katakanlah, bila saja ia bersikap baik dan tidak membunuhi ratusan ribu orang Singapura, Malaya dan Indonesia, maka tentu ia akan mendapat simpati.
Tetapi sudah garisan sejarah bahwa kita harus begini, dan jangan lupa, sampai sekarang pun, dominasi dari ekonomi Jepang masih ada di Indonesia (lihat mobil Toyota, tv Toshiba, laptop, lemari es, dan lain-lain).
68 tahun sudah lewat dari kemerdekaan republik Indonesia. Tetapi sisa-sisa imperialisme, tidak ada nya budaya internal yang kuat, dan berbagai permasalahan yang fundamental tetap menjadi beban amanat penderitaan rakyat. Tidak adanya supremasi hukum, kekacauan dalam pendistribusian keuntungan ekonomi, dan avonturir politisi yang busuk, siap menerkam kejayaan bangsa Indonesia.
Kita bukan hanya belajar sejarah. Tetapi sudah seharusnya kita menjadikan sejarah itu modal dasar dalam menapak kehidupan kita di masa mendatang.