Centeng
Republik
Siapa bilang Belanda menjajah kita 3.5 abad?
Sebenarnya kita tidak pernah dijajah Belanda, lagi! Cuma, Belanda itu
beda kulit
dan sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi mudah bagi kita untuk mencari
kambing
hitam. Oooohh .. Mmmm … kita begini habis dijajah sama Belanda sih.
Padahal Belanda-nya sendiri sekarang maju dan
beradab. VOC lah disalahkan.
Jadi salah siapa? Jepang mungkin penjajah kita.
Cuma 3.5 tahun kok. Lah, wong 3.5 tahun kok kita bisa diubah sedemikian
parah.
Emangnya gampang mengubah budaya. Jadi salah siapa?
Centeng. Ya, itulah kata yang tepat. Ada yang
bilang preman. Kata apa itu? Freeman, atau Vreiman. Orang yang nganggur,
minta
duit. Benalu, parasit. Menghisap darah orang lain.
Kalau pejabat yang menghisap darah rakyat
namanya
Centeng bukan? Preman bukan? Tanya seorang anak SD. Lho SD juga sudah
pintar ya,
biarpun nantinya nggak bisa lulus Ujian Akhir nasional.
Saudaraku sekalian, janganlah engkau menjadi
centeng. Janganlah engkau menjadi preman. Jadilah polisi, jaksa, dan
pejabat.
Mereka adalah orang-orang mulia yang terhormat.
Lah, tapi kenapa kok negara kita amburadul yak?
Kalau memang banyak orang mulia dan terhormat. Jadi nggak banyak orang
mulia dan
terhormat? Wah, itu susah njawabnya. Logikanya susah. Mungkin emang
nggak pake
logika.
------------------------------ ------------------------------ ------------------------
Jadi kita kembali lagi ke pokok bahasan kita.
Sejarah kita benar nggak sih? Memangnya Belanda datang ke Indonesia
tahun
berapa? Emangnya ada Indonesia sebelum Belanda datang?
Oh ya ada. Wong Majapahit juga ada toh? Tahun
1211
kalau tidak salah.
Katanya bangsa tempe itu menyedihkan. Artinya
yang
makannya tempe. Tapi kok ya tempe juga kedelainya impor. Orang republik
makan
nasi, beras. Tapi beras pun terkadang impor. Susu diimpor. Daging
diimpor, tapi
ikan dari lautan sendiri dicuri orang lain.
Jadi kita ini ada kemajuan atau kemunduran
sebenarnya? Tahun 1970 saya pernah dengar masih ada daerah yang belum
pernah
lihat keran atau air mengalir. Tahun 1974 saya dengar Jakarta masih
lengang,
sepi. Tidak ada kemacetan.
Tahun 1978 kabarnya nilai tukar satu dolar
adalah
seharga 300 perak. Jadi kalau beli Toyota Corolla bisa seharga 3 juta
rupiah.
Baru. Sekarang 3 juta Cuma dapat bempernya.
Dulu rumah di Tebet harganya 2.5 juta rupiah.
Sekarang 2 miliar rupiah. Dulu Pakde yang guru bisa naik pesawat. Harga
tiketnya
murah. Cuma 1/50 gajinya. Sekarang, gaji guru cuma 1/50 tiket pesawat.
Jadi, kata siapa kita dijajah Belanda?
Kata nenek saya, jaman Belanda itu jaman normal.
Jaman itu semuanya stabil. Harga sekilo beras Cuma sebenggol. Jaman orde
baru
semua nya juga normal. Semua stabil, kenaikan harga stabil. Gaji tetap
stabil,
kenaikannya nggak seberapa dibanding kenaikan harga rumah dan tiket
pesawat
tadi. Stabil juga, yang miskin tetap miskin, yang bodoh tetap bodoh.
Jadi, kata siapa kita dijajah
Belanda?
Nah lho!
Yok kita jalan-jalan ke kampus. Ketemu mahasiswa
yang punya cita-cita. Jadi karyawan, beli mobil beli rumah, kawin, punya
anak,
sekolah ke luar negeri, pensiun. Happily ever after. Tapi realitanya?
Ngelamar kerja di oil company asing nggak ada
yang
nerima. Kerja di perusahaan nasional bikin mobil, dikiranya bisa beli
mobil.
Paling tidak dapat discount lah. Nggak tahunya, Cuma dipinjamin mobil
buat nagih
kredit. Pulang naik bis juga. Gaji sebulan habis dalam seminggu. Paling
banter
dapat cicilan motor.
Setelah kerja 5 tahun, punya uang 30 juta, bisa
dp
rumah. Cicilan sebulan, besarnya sepertiga gaji. Yang dua pertiga bayar
hutang
kartu kredit dan yang dp tadi. Jadi nggak kawin-kawin. Cita-cita kandas,
frustasi, gila, masuk RS jiwa!
Jadi, kata siapa kita dijajah Belanda?
Masih ingat punya teman, bapaknya petani. Trus,
teman saya itu cita-cita masuk jadi tentara, nggak mau jadi petani.
Bapaknya
jual tanah, buat biaya masuk akademi. Bapak kehilangan tanah, anak nggak
lulus
tes. Bapak gantung diri. Anak jadi buruh tani.
Jadi, kata siapa kita dijajah Belanda?
Sebenarnya di awal republik, ada pendiri
republik
yang sudah mulai bertikai. Bentuknya nanti apa republik ini? Asasnya
apa? Agama?
Ideologi A? ideologi B? sekuler? Apa donk?
Akhirnya di antara pemimpin itu ada yang menang.
Menangnya dulu katanya dia benci banget sama yng namanya Belanda.
Belanda itu
nekolim, kolonialisme dulu, sekarang dan masa datang. Akan selalu ada
nekolim.
Mungkin nekolim itu lebih jahat daripada setan. Bahkan 7 setan kota
digabung
nggak nyamain nekolim. Malah setan itu belajar dari nekolim. Akhirnya
negeri
anti nekolim membenci semua yang bau Belanda.
Padahal, kata siapa kita dijajah Belanda?
Akhirnya lahir republik anti-nekolim. Di
republik
ini, dosa terbesar adalah menjadi agen nekolim. Semua yang berbau
nekolim
diganyang diberantas. Dibawah satu komando, semua berseru : Maju tak
gentar,
membela yang benar! Ternyata, tidak sampai 50 tahun kemudian sudah jadi :
Maju
tak gentar, membela yang bayar!
Satu komando akhirnya runtuh juga, karena jaman
demokrasi menghendaki matinya pemimpin revolusi. Tapi bukan itu
sebenarnya yang
bikin mati pemimpin revolusi. Sebenarnya ketidaktahanan terhadap
kemiskinan dan
kemelaratan bikin orang pusing sama pemimpin revolusi. Belum lagi
nekolim yang
sebenarnya memang mengintai. Di dunia bebas ini, yang pintar berkuasa
atas yang
tidak pintar. Yang cerdas menipu yang bodoh. Entah itu nekolim atau
iblis atau
setan kota, atau stabilitas itu sendiri, tapi kalau mereka cerdas, ya
malaikat
yang bodoh ditipu juga. Karena katanya setan aja belajar dari nekolim.
Jadi cita-cita bangsa yang ingin sederajat
dengan
bangsa lain di dunia kandas. Ternyata banyak serigala hidup di dunia.
Serigala
nyamar jadi manusia. Atau manusia berbulu serigala. Manusia adalah
serigala bagi
manusia lain. Serigala berbulu domba. Ngasih pinjam hutang, biar nggak
bisa
bayar. Nanti tinggal jual pulau. Disini bahkan, ada domba jualan bulu
domba ke
serigala. Friend makan friend, katanya.
Jadi, lagi-lagi, kata siapa kita dijajah
Belanda?
Akhirnya pemimpin nasional tumbang, diganti
dengan
stabilitas. Stabilitas gaji, stabilitas korupsi, semua stabil. Hutang
juga
stabil, tiap tahun makin banyak yang memberikan hutang. Harga stabil
naik. Hmmm,
kayaknya sama nih kecium gelagatnya.
Memangnya kenapa kalau kita dijajah Belanda?
Di tetangga republik centeng yang tidak jauh,
orangnya melakukan hal berbeda. Bukan menumpuk semangat anti-nekolim,
malah jadi
pangkalan militer nekolim. Orangnya santai, tapi kalau soal korupsi,
dibabat
habis. Kabarnya punggawa negara di negeri tetangga itu, kalau korupsi
ketahuan,
dihukum berat. Bisa ditembak mati atau digantung. Paling ringan dipecat
dan jadi
gembel.
Bahkan kabarnya menerima hadiah juga dilarang.
Menerima saja dilarang, karena tugas punggawa sudah jelas, melayani
masyarakat.
Kalau punggawa tidak merasa cukup gajinya, ya beralih saja jadi
pengusaha.
Jangan jadi punggawa, tentara yang pengusaha.
Sebab punggawa yang pengusaha, pasti tidak fair.
Jadi wasit, sekaligus pemain. Jadi hakim, sekaligus jaksa, tertuduh dan
penasihat hukum. Tidak fair. Tidak bisa jadi brahmana, ksatria,
sekaligus sudra.
Masak mau jadi direktur, manager, sekaligus office boy, ndak bisa lah
yaw!!
Kalau begini, sudah jelas kita tidak dijajah
Belanda!
Negeri tetangga lain juga ceritanya banyak. Tapi
semua intinya satu: pengetahuan, pendidikan. Waktu Jepang kalah perang,
kaisarnya bertanya, berapa guru yang tersisa di Jepang. Waktu dijawab
masih
banyak, daulat tuanku, ia pun optimis. Bangsa itu akan bangkit, karena
generasi
mudanya masih memiliki guru, yang digugu dan ditiru.
Di republik centeng, undang-undang nya bilang
kalau
anggaran pendidikan 35%. Kenapa? Karena tanpa pendidikan, orang mudanya
tidak
berpengetahuan. Kalau tidak berpengetahuan, maka akan muncul kekacauan.
Partai
politik nyogok diterima, rakyat tidak tahu apa yang diprogram
pemerintah.
Pendidikan memunculkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan
ketrampilan, dan
ketrampilan akan membuahkan sikap. Sikap tumbuh terus jadi perilaku. Dan
perilaku inilah yang dihadapi pemerintah centeng.
Tapi sayang, Dana pendidikan disunat. Masih
banyak
buat bayar hutang. Padahal bayar hutang minggu depan masih bisa juga,
tahun
depan atau 5 tahun lagi masih bisa juga. Tapi yang dipotong malah dana
pendidikan.
Ada prioritas lain katanya : jadi kita tidak
bisa
membiayai 35% pendidikan. Uang belanja itu masih terpakai untuk barang-2
pindahan.
Katanya …..
Setelah stabilisasi merajalela, maka hutan yang
ada
pun tidak dirasakan lagi sebagai aset yang bisa menyelamatkan bangsa.
Sebaliknya, para cukong kayu jadi centeng, mengajak para punggawa
berbisnis jadi
centengnya, sehingga mafia centeng pun akhirnya bikin hutan gundul.
Hutan
gundul, banjir pun bandang.
Lumpur panas muncul, gempa mengguncang, tsunami
melanda.
Tapi, kan kita tidak dijajah Belanda?
?
Pamulang, 14 Juli
2006
Ade-Eko-Berto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar