Senin, 14 Januari 2013

Centeng Republik

Centeng Republik
Siapa bilang Belanda menjajah kita 3.5 abad? Sebenarnya kita tidak pernah dijajah Belanda, lagi! Cuma, Belanda itu beda kulit dan sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi mudah bagi kita untuk mencari kambing hitam. Oooohh .. Mmmm … kita begini habis dijajah sama Belanda sih.
 
Padahal Belanda-nya sendiri sekarang maju dan beradab. VOC lah disalahkan.
 
Jadi salah siapa? Jepang mungkin penjajah kita. Cuma 3.5 tahun kok. Lah, wong 3.5 tahun kok kita bisa diubah sedemikian parah. Emangnya gampang mengubah budaya. Jadi salah siapa?
 
Centeng. Ya, itulah kata yang tepat. Ada yang bilang preman. Kata apa itu? Freeman, atau Vreiman. Orang yang nganggur, minta duit. Benalu, parasit. Menghisap darah orang lain.
 
Kalau pejabat yang menghisap darah rakyat namanya Centeng bukan? Preman bukan? Tanya seorang anak SD. Lho SD juga sudah pintar ya, biarpun nantinya nggak bisa lulus Ujian Akhir nasional.
 
Saudaraku sekalian, janganlah engkau menjadi centeng. Janganlah engkau menjadi preman. Jadilah polisi, jaksa, dan pejabat. Mereka adalah orang-orang mulia yang terhormat.
 
Lah, tapi kenapa kok negara kita amburadul yak? Kalau memang banyak orang mulia dan terhormat. Jadi nggak banyak orang mulia dan terhormat? Wah, itu susah njawabnya. Logikanya susah. Mungkin emang nggak pake logika.
 
------------------------------------------------------------------------------------
 
Jadi kita kembali lagi ke pokok bahasan kita. Sejarah kita benar nggak sih? Memangnya Belanda datang ke Indonesia tahun berapa? Emangnya ada Indonesia sebelum Belanda datang?
 
Oh ya ada. Wong Majapahit juga ada toh? Tahun 1211 kalau tidak salah.
 
Katanya bangsa tempe itu menyedihkan. Artinya yang makannya tempe. Tapi kok ya tempe juga kedelainya impor. Orang republik makan nasi, beras. Tapi beras pun terkadang impor. Susu diimpor. Daging diimpor, tapi ikan dari lautan sendiri dicuri orang lain.
 
Jadi kita ini ada kemajuan atau kemunduran sebenarnya? Tahun 1970 saya pernah dengar masih ada daerah yang belum pernah lihat keran atau air mengalir. Tahun 1974 saya dengar Jakarta masih lengang, sepi. Tidak ada kemacetan.
 
Tahun 1978 kabarnya nilai tukar satu dolar adalah seharga 300 perak. Jadi kalau beli Toyota Corolla bisa seharga 3 juta rupiah. Baru. Sekarang 3 juta Cuma dapat bempernya.
 
Dulu rumah di Tebet harganya 2.5 juta rupiah. Sekarang 2 miliar rupiah. Dulu Pakde yang guru bisa naik pesawat. Harga tiketnya murah. Cuma 1/50 gajinya. Sekarang, gaji guru cuma 1/50 tiket pesawat.
 
Jadi, kata siapa kita dijajah Belanda?
 
Kata nenek saya, jaman Belanda itu jaman normal. Jaman itu semuanya stabil. Harga sekilo beras Cuma sebenggol. Jaman orde baru semua nya juga normal. Semua stabil, kenaikan harga stabil. Gaji tetap stabil, kenaikannya nggak seberapa dibanding kenaikan harga rumah dan tiket pesawat tadi. Stabil juga, yang miskin tetap miskin, yang bodoh tetap bodoh.
 
Jadi, kata siapa kita dijajah Belanda?
 
Nah lho!
 
Yok kita jalan-jalan ke kampus. Ketemu mahasiswa yang punya cita-cita. Jadi karyawan, beli mobil beli rumah, kawin, punya anak, sekolah ke luar negeri, pensiun. Happily ever after. Tapi realitanya?
 
Ngelamar kerja di oil company asing nggak ada yang nerima. Kerja di perusahaan nasional bikin mobil, dikiranya bisa beli mobil. Paling tidak dapat discount lah. Nggak tahunya, Cuma dipinjamin mobil buat nagih kredit. Pulang naik bis juga. Gaji sebulan habis dalam seminggu. Paling banter dapat cicilan motor.
 
Setelah kerja 5 tahun, punya uang 30 juta, bisa dp rumah. Cicilan sebulan, besarnya sepertiga gaji. Yang dua pertiga bayar hutang kartu kredit dan yang dp tadi. Jadi nggak kawin-kawin. Cita-cita kandas, frustasi, gila, masuk RS jiwa!
 
Jadi, kata siapa kita dijajah Belanda? 
 
Masih ingat punya teman, bapaknya petani. Trus, teman saya itu cita-cita masuk jadi tentara, nggak mau jadi petani. Bapaknya jual tanah, buat biaya masuk akademi. Bapak kehilangan tanah, anak nggak lulus tes. Bapak gantung diri. Anak jadi buruh tani.
 
Jadi, kata siapa kita dijajah Belanda?
 
Sebenarnya di awal republik, ada pendiri republik yang sudah mulai bertikai. Bentuknya nanti apa republik ini? Asasnya apa? Agama? Ideologi A? ideologi B? sekuler? Apa donk?
 
Akhirnya di antara pemimpin itu ada yang menang. Menangnya dulu katanya dia benci banget sama yng namanya Belanda. Belanda itu nekolim, kolonialisme dulu, sekarang dan masa datang. Akan selalu ada nekolim. Mungkin nekolim itu lebih jahat daripada setan. Bahkan 7 setan kota digabung nggak nyamain nekolim. Malah setan itu belajar dari nekolim. Akhirnya negeri anti nekolim membenci semua yang bau Belanda.
 
Padahal, kata siapa kita dijajah Belanda?
 
Akhirnya lahir republik anti-nekolim. Di republik ini, dosa terbesar adalah menjadi agen nekolim. Semua yang berbau nekolim diganyang diberantas. Dibawah satu komando, semua berseru : Maju tak gentar, membela yang benar! Ternyata, tidak sampai 50 tahun kemudian sudah jadi : Maju tak gentar, membela yang bayar!
 
Satu komando akhirnya runtuh juga, karena jaman demokrasi menghendaki matinya pemimpin revolusi. Tapi bukan itu sebenarnya yang bikin mati pemimpin revolusi. Sebenarnya ketidaktahanan terhadap kemiskinan dan kemelaratan bikin orang pusing sama pemimpin revolusi. Belum lagi nekolim yang sebenarnya memang mengintai. Di dunia bebas ini, yang pintar berkuasa atas yang tidak pintar. Yang cerdas menipu yang bodoh. Entah itu nekolim atau iblis atau setan kota, atau stabilitas itu sendiri, tapi kalau mereka cerdas, ya malaikat yang bodoh ditipu juga. Karena katanya setan aja belajar dari nekolim.
 
Jadi cita-cita bangsa yang ingin sederajat dengan bangsa lain di dunia kandas. Ternyata banyak serigala hidup di dunia. Serigala nyamar jadi manusia. Atau manusia berbulu serigala. Manusia adalah serigala bagi manusia lain. Serigala berbulu domba. Ngasih pinjam hutang, biar nggak bisa bayar. Nanti tinggal jual pulau. Disini bahkan, ada domba jualan bulu domba ke serigala. Friend makan friend, katanya. 
 
Jadi, lagi-lagi, kata siapa kita dijajah Belanda?
 
Akhirnya pemimpin nasional tumbang, diganti dengan stabilitas. Stabilitas gaji, stabilitas korupsi, semua stabil. Hutang juga stabil, tiap tahun makin banyak yang memberikan hutang. Harga stabil naik. Hmmm, kayaknya sama nih kecium gelagatnya.
 
Memangnya kenapa kalau kita dijajah Belanda?
 
Di tetangga republik centeng yang tidak jauh, orangnya melakukan hal berbeda. Bukan menumpuk semangat anti-nekolim, malah jadi pangkalan militer nekolim. Orangnya santai, tapi kalau soal korupsi, dibabat habis. Kabarnya punggawa negara di negeri tetangga itu, kalau korupsi ketahuan, dihukum berat. Bisa ditembak mati atau digantung. Paling ringan dipecat dan jadi gembel.
 
Bahkan kabarnya menerima hadiah juga dilarang. Menerima saja dilarang, karena tugas punggawa sudah jelas, melayani masyarakat. Kalau punggawa tidak merasa cukup gajinya, ya beralih saja jadi pengusaha. Jangan jadi punggawa, tentara yang pengusaha.
 
Sebab punggawa yang pengusaha, pasti tidak fair. Jadi wasit, sekaligus pemain. Jadi hakim, sekaligus jaksa, tertuduh dan penasihat hukum. Tidak fair. Tidak bisa jadi brahmana, ksatria, sekaligus sudra. Masak mau jadi direktur, manager, sekaligus office boy, ndak bisa lah yaw!!
 
Kalau begini, sudah jelas kita tidak dijajah Belanda!
 
Negeri tetangga lain juga ceritanya banyak. Tapi semua intinya satu: pengetahuan, pendidikan. Waktu Jepang kalah perang, kaisarnya bertanya, berapa guru yang tersisa di Jepang. Waktu dijawab masih banyak, daulat tuanku, ia pun optimis. Bangsa itu akan bangkit, karena generasi mudanya masih memiliki guru, yang digugu dan ditiru.
 
Di republik centeng, undang-undang nya bilang kalau anggaran pendidikan 35%. Kenapa? Karena tanpa pendidikan, orang mudanya tidak berpengetahuan. Kalau tidak berpengetahuan, maka akan muncul kekacauan. Partai politik nyogok diterima, rakyat tidak tahu apa yang diprogram pemerintah. Pendidikan memunculkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan ketrampilan, dan ketrampilan akan membuahkan sikap. Sikap tumbuh terus jadi perilaku. Dan perilaku inilah yang dihadapi pemerintah centeng.
 
Tapi sayang, Dana pendidikan disunat. Masih banyak buat bayar hutang. Padahal bayar hutang  minggu depan masih bisa juga, tahun depan atau 5 tahun lagi masih bisa juga.  Tapi yang dipotong malah dana pendidikan.
 
Ada prioritas lain katanya : jadi kita tidak bisa membiayai 35% pendidikan. Uang belanja itu masih terpakai untuk barang-2 pindahan.
 
Katanya …..
 
Setelah stabilisasi merajalela, maka hutan yang ada pun tidak dirasakan lagi sebagai aset yang bisa menyelamatkan bangsa. Sebaliknya, para cukong kayu jadi centeng, mengajak para punggawa berbisnis jadi centengnya, sehingga mafia centeng pun akhirnya bikin hutan gundul. Hutan gundul, banjir pun bandang.
 
Lumpur panas muncul, gempa mengguncang, tsunami melanda.
 
Tapi, kan kita tidak dijajah Belanda?
 
?
 
 
 
Pamulang, 14 Juli 2006
Ade-Eko-Berto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar