Pernahkah kita meminta kembali apa yang kita beri? Rasanya tidak. Ibu sudah melahirkan anaknya, tidak pernah meminta untuk anak itu dimasukkan kembali. Ayah tidak pernah menyesali telah membiayai sekolah anaknya. Paman tidak pernah menyesal membelikan makanan dan mainan kesukaan keponakannya. Dst.
Qul hu Allahu Ahad, Allahusshomad. itulah awal surat Al Ikhlas. Apa yang konektivitas antara Ikhlas dengan Allahu Ahad? Mungkin dengan ikhlas, bahwa ada suatu Zat yang Maha Memberi, sehingga kita tidak pernah meminta dari makhluk lain, kita hanya bergantung kepada Nya.
Ikhlas adalah menerima juga takdir dan ketentuan. Bahwa kita terlahir sebagai orang Indonesia. Bahwa kita tidak sempurna. Bahwa dengan kekurangan kita, kita masih mencoba untuk menutupi kekurangan tersebut dengan bekerja keras. Dan tidak meminta upah. Karena tidak ada upah yang dapat membayar oksigen yang kita hirup. Bekerja nya sel-sel dalam otak kita, mencerna nya lambung kita atau bagaimana fungsi reproduksi terus-menerus memperbaiki diri. Bagaimana jika luka dan darah kita tidak dapat membeku? Bagaimana jaringan antar otot atau syaraf bila terjadi sesuatu yang fatal? Apakah kita ada karena usaha kita? Ataukah karena Al Ikhlas?
Apakah kita pernah menciptakan sesuatu? atau kita hanya mengambil dari alam (seperti ikan, telur yang dihasilkan oleh ayam, lebah yang melakukan penyerbukan dari satu tanaman ke tanaman lain). Kita hanya ada karena keikhlasan suatu Zat tersebut, yang disembah atau tidak, diakui atau tidak, dipatuhi atau tidak, tetap saja Maha Kuasa dan Maha Memberi.
Dia akan Memberi bagi yang Dia ingin Berikan, dan Pilihan Nya tidak pernah salah. Pernahkan Dia salah menghitung jarak bumi ke matahari? Pernahkah edaran bumi mengelilingi matahari salah? Pernahkah bulan salah mengedari bumi? Dapatkah kita menghentikan curah hujan, badai typhoon, tornado dan pemanasan global? Ya, kunci nya di dalam Al Ikhlas tadi. Oleh karena itu ikhlas-lah kepada makhluk, dan berikan lah bagian bagi mereka yang membutuhkan.
Qul hu Allahu Ahad, Allahusshomad. itulah awal surat Al Ikhlas. Apa yang konektivitas antara Ikhlas dengan Allahu Ahad? Mungkin dengan ikhlas, bahwa ada suatu Zat yang Maha Memberi, sehingga kita tidak pernah meminta dari makhluk lain, kita hanya bergantung kepada Nya.
Ikhlas adalah menerima juga takdir dan ketentuan. Bahwa kita terlahir sebagai orang Indonesia. Bahwa kita tidak sempurna. Bahwa dengan kekurangan kita, kita masih mencoba untuk menutupi kekurangan tersebut dengan bekerja keras. Dan tidak meminta upah. Karena tidak ada upah yang dapat membayar oksigen yang kita hirup. Bekerja nya sel-sel dalam otak kita, mencerna nya lambung kita atau bagaimana fungsi reproduksi terus-menerus memperbaiki diri. Bagaimana jika luka dan darah kita tidak dapat membeku? Bagaimana jaringan antar otot atau syaraf bila terjadi sesuatu yang fatal? Apakah kita ada karena usaha kita? Ataukah karena Al Ikhlas?
Apakah kita pernah menciptakan sesuatu? atau kita hanya mengambil dari alam (seperti ikan, telur yang dihasilkan oleh ayam, lebah yang melakukan penyerbukan dari satu tanaman ke tanaman lain). Kita hanya ada karena keikhlasan suatu Zat tersebut, yang disembah atau tidak, diakui atau tidak, dipatuhi atau tidak, tetap saja Maha Kuasa dan Maha Memberi.
Dia akan Memberi bagi yang Dia ingin Berikan, dan Pilihan Nya tidak pernah salah. Pernahkan Dia salah menghitung jarak bumi ke matahari? Pernahkah edaran bumi mengelilingi matahari salah? Pernahkah bulan salah mengedari bumi? Dapatkah kita menghentikan curah hujan, badai typhoon, tornado dan pemanasan global? Ya, kunci nya di dalam Al Ikhlas tadi. Oleh karena itu ikhlas-lah kepada makhluk, dan berikan lah bagian bagi mereka yang membutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar