Pada tanggal 7 Desember 1941, jam 07.00 waktu Oahu, Hawaii, pasukan AS di Pasifik dikejutkan oleh serangan kejutan (Blitzkrieg ala Jepang) di pangkalan mereka sendiri.
Sebenarnya hal ini bukan tidak ditunggu, sebab setelah beberapa bulan, AS yang telah mengembargo ekspor minyak ke Jepang telah menjepit Jepang. Ekspor penting minyak dari Borneo (dulu Hindia Belanda - e.g. Tarakan) telah diblokade oleh AS. Belanda sebagai sekutu yang terlibat dalam Forces ABDA (America, British, Dutch, Australia) - patuh pada posisi AS ini dan seharusnya pun sadar bahwa Jepang telah mempersiapkan mesin perang mereka.
Sinyal-sinyal yang ditangkap seharusnya semua menunjukkan pada intensi Jepang yang kian memuncak untuk menguasai seluruh Asia. Dimulai sejak 1937, sejak penyerangan terhadap Shanghai, dan tenggelamnya Gunboat Panai (milik AS) di sungai Yangtze, seharusnya AS dan sekutunya sudah bersiap untuk perang.
Sayangnya memang, tidak ada yang pernah membayangkan bencana yang bakal terjadi jika Jepang dan armada kapal induk dan kapal tempurnya (Battleship terbesar di dunia adalah Yamato dan Musashi - yang sangat dirahasiakan) menyerang Hindia Belanda.
Pertahanan Inggris dan AS di Asia sangatlah tipis, karena resources mereka tersedot ke Eropa. Peperangan di lautan Pasifik dan Lautan Hindia akan memerlukan kapal perang, minyak dan sumber daya lain yang sangat besar. Apakah Jepang sanggup untuk mencapai area seluas itu?
Bila peperangan di China saja tidak sanggup dituntaskan oleh balatentara Jepang, maka apakah ia akan sanggup menguasai lautan? Inggris pun terlalu konfiden terhadap Empire mereka di Hongkong, Singapura, Australia, India dan banyak tempat lagi. Kemakmuran dalam masa damai seringkali menipu pihak yang tadinya kuat. Padahal Jepang menginginkan Empire tersebut untuk kepentingan mereka (ingat 3A: Jepang Cahaya Asia, Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia).
Perang di Asia Timur Raya tidaklah terelakkan. Semua orang nampaknya tahu bakal terjadi .... kecuali penguasa kolonial Inggris, Belanda dan Amerika yang rileks di Malaya, Indonesia dan Filipina. Semuanya bagai daging steak lezat yang dihidangkan di depan harimau Jepang yang berlindung di bawah bendera Matahari Terbit. (Dai Nippon)
Sebenarnya hal ini bukan tidak ditunggu, sebab setelah beberapa bulan, AS yang telah mengembargo ekspor minyak ke Jepang telah menjepit Jepang. Ekspor penting minyak dari Borneo (dulu Hindia Belanda - e.g. Tarakan) telah diblokade oleh AS. Belanda sebagai sekutu yang terlibat dalam Forces ABDA (America, British, Dutch, Australia) - patuh pada posisi AS ini dan seharusnya pun sadar bahwa Jepang telah mempersiapkan mesin perang mereka.
Sinyal-sinyal yang ditangkap seharusnya semua menunjukkan pada intensi Jepang yang kian memuncak untuk menguasai seluruh Asia. Dimulai sejak 1937, sejak penyerangan terhadap Shanghai, dan tenggelamnya Gunboat Panai (milik AS) di sungai Yangtze, seharusnya AS dan sekutunya sudah bersiap untuk perang.
Sayangnya memang, tidak ada yang pernah membayangkan bencana yang bakal terjadi jika Jepang dan armada kapal induk dan kapal tempurnya (Battleship terbesar di dunia adalah Yamato dan Musashi - yang sangat dirahasiakan) menyerang Hindia Belanda.
Pertahanan Inggris dan AS di Asia sangatlah tipis, karena resources mereka tersedot ke Eropa. Peperangan di lautan Pasifik dan Lautan Hindia akan memerlukan kapal perang, minyak dan sumber daya lain yang sangat besar. Apakah Jepang sanggup untuk mencapai area seluas itu?
Bila peperangan di China saja tidak sanggup dituntaskan oleh balatentara Jepang, maka apakah ia akan sanggup menguasai lautan? Inggris pun terlalu konfiden terhadap Empire mereka di Hongkong, Singapura, Australia, India dan banyak tempat lagi. Kemakmuran dalam masa damai seringkali menipu pihak yang tadinya kuat. Padahal Jepang menginginkan Empire tersebut untuk kepentingan mereka (ingat 3A: Jepang Cahaya Asia, Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia).
Perang di Asia Timur Raya tidaklah terelakkan. Semua orang nampaknya tahu bakal terjadi .... kecuali penguasa kolonial Inggris, Belanda dan Amerika yang rileks di Malaya, Indonesia dan Filipina. Semuanya bagai daging steak lezat yang dihidangkan di depan harimau Jepang yang berlindung di bawah bendera Matahari Terbit. (Dai Nippon)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar