Kolonel Paul W. Tibbets, Jr. (W untuk Warfield)
adalah pilot utama saat B29 bernama Enola Gay menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus, 1945.
Sebenarnya B29 tersebut baru saja dinamakan Enola Gay, setelah Paul Tibbets menyatakan bahwa pesawat itu akan ia bawa sendiri - all the way to Japan. (Enola Gay adalah nama gadis dari ibu kandung Paul W. Tibbets. Ia sendiri lahir pada tanggal 23 Februari 1915 - yang berarti ia baru saja berumur 30 thn saat menjadi commanding officer dari 509th Composite Group dan sudah menjadi kolonel penuh.
Sepanjang karirnya dan sesudah ia pensiun, ia mengemukakan bahwa "ia tidak pernah menyesal telah menjatuhkan bom atom di Hiroshima." Tibbets memulai karirnya setelah ia memutuskan untuk tidak meneruskan menjadi dokter, dan malah masuk ke Angkatan Darat AS (US Army).
Selain B29, ia telah mulai menerbangkan B17 Flying Fortress sejak Maret 1942 dari Pangkalan Udara RAF Polebrook di Inggris. Setelah menyelesaikan misinya, ia pun ditarik ke teater Mediterania dan menjadi orang kedua di 12th Airforce dengan pangkat Letnan Kolonel. Jendral Dwight D. Eisenhower pun mengakui Tibbets sebagai pilot terbaik yang ia kenal (beberapa kali menjadi pilot pribadinya dalam tugas).
Tibbets kemudian kembali ke AS pada tahun 1944 untuk mulai melakukan testing dengan B29 dan saat project Manhattan dimulai, ia telah ikut dalam program tersebut di Los Alamos, New Mexico.
Tanpa keraguan dan penuh disiplin, Tibbets take off dari pulau Tinian pada 6 Agustus, 1945. Foto yang sering terlihat ia melambai dari jendela kokpitnya, sebenarnya bukanlah foto untuk melambai kepada wartawan. Melainkan ia melihat bahwa masih ada wartawan di sisi kiri dekat propeller pesawat, sehingga ia bermaksud meminta mereka untuk menyingkir dari situ.
Lalu terdengarlah oleh kita berita mengejutkan tersebut: Hiroshima telah dibom atom ("Little Boy" adalah nama pada bom tersebut).
adalah pilot utama saat B29 bernama Enola Gay menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus, 1945.
Sebenarnya B29 tersebut baru saja dinamakan Enola Gay, setelah Paul Tibbets menyatakan bahwa pesawat itu akan ia bawa sendiri - all the way to Japan. (Enola Gay adalah nama gadis dari ibu kandung Paul W. Tibbets. Ia sendiri lahir pada tanggal 23 Februari 1915 - yang berarti ia baru saja berumur 30 thn saat menjadi commanding officer dari 509th Composite Group dan sudah menjadi kolonel penuh.
Sepanjang karirnya dan sesudah ia pensiun, ia mengemukakan bahwa "ia tidak pernah menyesal telah menjatuhkan bom atom di Hiroshima." Tibbets memulai karirnya setelah ia memutuskan untuk tidak meneruskan menjadi dokter, dan malah masuk ke Angkatan Darat AS (US Army).
Selain B29, ia telah mulai menerbangkan B17 Flying Fortress sejak Maret 1942 dari Pangkalan Udara RAF Polebrook di Inggris. Setelah menyelesaikan misinya, ia pun ditarik ke teater Mediterania dan menjadi orang kedua di 12th Airforce dengan pangkat Letnan Kolonel. Jendral Dwight D. Eisenhower pun mengakui Tibbets sebagai pilot terbaik yang ia kenal (beberapa kali menjadi pilot pribadinya dalam tugas).
Tibbets kemudian kembali ke AS pada tahun 1944 untuk mulai melakukan testing dengan B29 dan saat project Manhattan dimulai, ia telah ikut dalam program tersebut di Los Alamos, New Mexico.
Tanpa keraguan dan penuh disiplin, Tibbets take off dari pulau Tinian pada 6 Agustus, 1945. Foto yang sering terlihat ia melambai dari jendela kokpitnya, sebenarnya bukanlah foto untuk melambai kepada wartawan. Melainkan ia melihat bahwa masih ada wartawan di sisi kiri dekat propeller pesawat, sehingga ia bermaksud meminta mereka untuk menyingkir dari situ.
Lalu terdengarlah oleh kita berita mengejutkan tersebut: Hiroshima telah dibom atom ("Little Boy" adalah nama pada bom tersebut).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar