Bila kita lebih sadari sekarang, keputusan Jepang menyerang AS di Pasifik terbukti nyata dengan kemajuan ekonomi Cina saat ini. Cina sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia no.2 setelah AS terbukti adalah alasan Jepang menyerang Manchuria untuk menguasai ekonomi di tahun 1931 (Mukden Incident).
Hegemoni AS di Asia dan Pasifik telah ditantang oleh Jepang, karena otomatis 2 negara industri yang menginginkan resources kaya (seperti dari Asia Tenggara - minyak dari Borneo) menjadi sasaran empuk dari negara industrialis yang ingin maju.
Posisi di equator yang memberikan banyak advantage (diantaranya: sinar matahari sepanjang tahun dan posisi peluncuran satelit), bahkan akses terhadap emas, tembaga dan uranium, menjadikan Jepang "takut" tidak akan kebagian kue dari kemajuan itu sendiri.
Oleh karena itu sah dan logis bagi Jepang untuk "mengambil" kue tersebut dengan cara paksa dari negara-negara imperialis barat. Sebagai contoh yang riil, armada Jepang telah "dikebiri" sesuai dengan pakta Washington tahun 1922 untuk tidak memiliki kapal perang dengan tonase lebih besar daripada Inggris dan AS. Jelas dari sudut ini, pandangan imperialis barat adalah membatasi kemampuan bangsa Asia untuk maju.
Cina sendiri di tahun 1930-an tidak dapat berkonsolidasi dengan baik karena adanya warlord yang lebih berkuasa. Jendral Yuan Shih Kai misalnya, digambarkan sebagai tokoh oportunis, yang dimana Sun Yat Sen di tahun 1912 harus memberikan kekuasaannya, karena Yuan adalah orang yang digambarkan berhasil menggusur dinasti Qing. (Yuan sebenarnya adalah jendral dari Kaisar berkuasa, tetapi ia menolak menghabisi pasukan nasionalis dengan berpura-pura kehabisan amunisi - dan meminta emas lebih banyak - dan membangkrutkan dinasti Qing yang telah berhutang pada negara-negara barat).
Setelah Cina dikuasai oleh komunis pada tahun 1949, maka terbukalah jalan lebar bagi Cina untuk mencapai kemajuan seperti sekarang. AS sendiri tetap ingin berkuasa - karena semua mengira bahwa Chiang Kai Shek dari Kuomintang (nasionalis) yang akan memenangkan perang saudara. Biar bagaimanapun AS membantunya, tetap saja mereka harus menyingkir ke Formosa (sekarang Taiwan).
Entah karena sudah "garis tangan" bangsa Asia Tenggara untuk merdeka atau hal yang lainnya - tingkah Jepang mengusir bangsa barat dari nusantara dan negara-negara Asia Tenggara lain - mengakibatkan kemerdekaan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina dan lain-lain. Hal ini membuka jalan bagi negosiasi dagang secara damai (saat ini Jepang adalah customer no.1 untuk minyak dan gas bumi, bersaing dengan RRC sebagai negara industri maju yang baru - sesuai ramalan Sukarno "The New Emerging Forces").
Terbayangkah bahwa bila Indonesia adalah the new emerging forces, kira-kira masih adakah bule Australia berkeliaran di bumi nusantara?
Hegemoni AS di Asia dan Pasifik telah ditantang oleh Jepang, karena otomatis 2 negara industri yang menginginkan resources kaya (seperti dari Asia Tenggara - minyak dari Borneo) menjadi sasaran empuk dari negara industrialis yang ingin maju.
Posisi di equator yang memberikan banyak advantage (diantaranya: sinar matahari sepanjang tahun dan posisi peluncuran satelit), bahkan akses terhadap emas, tembaga dan uranium, menjadikan Jepang "takut" tidak akan kebagian kue dari kemajuan itu sendiri.
Oleh karena itu sah dan logis bagi Jepang untuk "mengambil" kue tersebut dengan cara paksa dari negara-negara imperialis barat. Sebagai contoh yang riil, armada Jepang telah "dikebiri" sesuai dengan pakta Washington tahun 1922 untuk tidak memiliki kapal perang dengan tonase lebih besar daripada Inggris dan AS. Jelas dari sudut ini, pandangan imperialis barat adalah membatasi kemampuan bangsa Asia untuk maju.
Cina sendiri di tahun 1930-an tidak dapat berkonsolidasi dengan baik karena adanya warlord yang lebih berkuasa. Jendral Yuan Shih Kai misalnya, digambarkan sebagai tokoh oportunis, yang dimana Sun Yat Sen di tahun 1912 harus memberikan kekuasaannya, karena Yuan adalah orang yang digambarkan berhasil menggusur dinasti Qing. (Yuan sebenarnya adalah jendral dari Kaisar berkuasa, tetapi ia menolak menghabisi pasukan nasionalis dengan berpura-pura kehabisan amunisi - dan meminta emas lebih banyak - dan membangkrutkan dinasti Qing yang telah berhutang pada negara-negara barat).
Setelah Cina dikuasai oleh komunis pada tahun 1949, maka terbukalah jalan lebar bagi Cina untuk mencapai kemajuan seperti sekarang. AS sendiri tetap ingin berkuasa - karena semua mengira bahwa Chiang Kai Shek dari Kuomintang (nasionalis) yang akan memenangkan perang saudara. Biar bagaimanapun AS membantunya, tetap saja mereka harus menyingkir ke Formosa (sekarang Taiwan).
Entah karena sudah "garis tangan" bangsa Asia Tenggara untuk merdeka atau hal yang lainnya - tingkah Jepang mengusir bangsa barat dari nusantara dan negara-negara Asia Tenggara lain - mengakibatkan kemerdekaan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina dan lain-lain. Hal ini membuka jalan bagi negosiasi dagang secara damai (saat ini Jepang adalah customer no.1 untuk minyak dan gas bumi, bersaing dengan RRC sebagai negara industri maju yang baru - sesuai ramalan Sukarno "The New Emerging Forces").
Terbayangkah bahwa bila Indonesia adalah the new emerging forces, kira-kira masih adakah bule Australia berkeliaran di bumi nusantara?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar