Tulisan ini mungkin memprovokasi para ahli sejarah yang yakin benar bahwa bendera merah-putih-biru pernah berkibar di Istana Negara. Tapi coba kita jujur ya, apakah Meneer Belanda pernah langsung memimpin Hindia Belanda?
Konsep dari Hindia Belanda sendiri belum ada sebelum 1596. Yang ada mungkin adalah Majapahit (eks), Pasundan, Banten, Tidore, dan lain-lain *saya tidak ingat saking banyaknya kerajaan* - konsep yg lucunya sampai sekarang dianut untuk menandakan kesakralan upacara perkawinan (jadi raja sehari).
Belanda memeras rakyat tidak lah melalui tangan sendiri, melainkan dari patih, lurah, dan berbagai pemimpin informal lainnya. begitu ada kesulitan dengan 1 kerajaan, maka segeralah dikontak raja yang lain utk bersama menghantam kerajaan mbalelo tersebut (sadarkah anda di perang Aceh - serdadu belanda berkulit coklat?).
Revolusi belum selesai, begitu kata Sukarno - dan memang benar. Tren dari otonomi daerah melahirkan raja-raja kecil baru yg tidak punya wawasan kebangsaan. Yg penting daerah saya. Begitu kira-kira. Apalagi dengan baju daerah, tarian daerah - tidak jelek - tetapi seharusnya malah nasionalisme dan wawasan kebangsaan yg dikemukakan.
Menuju satu suku tidaklah salah - karena toh jepang dan korea itu begitu homogen sehingga mereka tdk pernah disibukkan oleh ritual kita yang mencoba menyamakan midodareni dengan adat batak - one culture. Punya rasa malu yg sama.
tetapi kita ini sudah terlanjur mengucap sumpah pemuda 28 okt - dan dirayakan pula setiap tahun dg hebatnya ceremonial - tapi secara esensi kita ini mudah sekali bilang : "C*** loe" (kata pengacara hebat yg dimaafkan oleh wagub dki). Artinya primordialisme, nepotisme, feodalisme ini demikian lengket di sanubari orang-orang terdidik - terpelajar - mengaku intelektual.
Pakaian nasional yang sengaja di-tren kan oleh Sukarno-hatta saat ini mulai pudar. (lihatlah betapa rapi pakaian mereka di zaman itu - dan sukarno pun menolak memakai blangkon - walauppun ia adalah orang jawa).
Siapa yang menjajah kita secara ekonomi? Apakah presiden yg berkompromi dengan Amerika Serikat (soal Freeport) ataukah menteri yg berkompromi soal mobil nasional? Bangsa barat sudah memberikan resepnya - bahkan kepada China dan Jepang, Korea. Kita tidak perlu menjajah bangsa ini - karena sesama anak bangsa pun sudah tega dan sudah cukup untuk memeras, menjajah, memiskinkan saudaranya sendiri.
Kita tidak sulit mencari dukun yg akan senang hati menyantet dukun lain - apabila bayarannya lebih mahal. Dia tidak akan bertanya 2kali - asal harganya pas, yang penting "saya" menang, yang penting "saya" dapat uang. Tidak ada yang berpikir "kita" nanti bagaimana?
Masa depan bangsa 2020? Saya pesimis. Bila tidak ada perubahan, pergerakan ini akan bergulir menjadi sentimen kedaerahan yang kejam, dan bagai bola salju yang bertambah besar, hanya akan menambah bencana, ditunjang dengan bocornya 6,7 triliun Century, BLBI 600 triliun berbunga, Hambalang dan Wisma Atlet (bahkan hasil korupsinya pun tidak perlu dikembalikan). Mau kemana bangsa ini?
Ingat, Belanda tidak perlu menjajah Indonesia. Kita sudah repot dipimpin oleh pemuka-pemuka masyarakat yang biadab, bodoh dan egois.
Konsep dari Hindia Belanda sendiri belum ada sebelum 1596. Yang ada mungkin adalah Majapahit (eks), Pasundan, Banten, Tidore, dan lain-lain *saya tidak ingat saking banyaknya kerajaan* - konsep yg lucunya sampai sekarang dianut untuk menandakan kesakralan upacara perkawinan (jadi raja sehari).
Belanda memeras rakyat tidak lah melalui tangan sendiri, melainkan dari patih, lurah, dan berbagai pemimpin informal lainnya. begitu ada kesulitan dengan 1 kerajaan, maka segeralah dikontak raja yang lain utk bersama menghantam kerajaan mbalelo tersebut (sadarkah anda di perang Aceh - serdadu belanda berkulit coklat?).
Revolusi belum selesai, begitu kata Sukarno - dan memang benar. Tren dari otonomi daerah melahirkan raja-raja kecil baru yg tidak punya wawasan kebangsaan. Yg penting daerah saya. Begitu kira-kira. Apalagi dengan baju daerah, tarian daerah - tidak jelek - tetapi seharusnya malah nasionalisme dan wawasan kebangsaan yg dikemukakan.
Menuju satu suku tidaklah salah - karena toh jepang dan korea itu begitu homogen sehingga mereka tdk pernah disibukkan oleh ritual kita yang mencoba menyamakan midodareni dengan adat batak - one culture. Punya rasa malu yg sama.
tetapi kita ini sudah terlanjur mengucap sumpah pemuda 28 okt - dan dirayakan pula setiap tahun dg hebatnya ceremonial - tapi secara esensi kita ini mudah sekali bilang : "C*** loe" (kata pengacara hebat yg dimaafkan oleh wagub dki). Artinya primordialisme, nepotisme, feodalisme ini demikian lengket di sanubari orang-orang terdidik - terpelajar - mengaku intelektual.
Pakaian nasional yang sengaja di-tren kan oleh Sukarno-hatta saat ini mulai pudar. (lihatlah betapa rapi pakaian mereka di zaman itu - dan sukarno pun menolak memakai blangkon - walauppun ia adalah orang jawa).
Siapa yang menjajah kita secara ekonomi? Apakah presiden yg berkompromi dengan Amerika Serikat (soal Freeport) ataukah menteri yg berkompromi soal mobil nasional? Bangsa barat sudah memberikan resepnya - bahkan kepada China dan Jepang, Korea. Kita tidak perlu menjajah bangsa ini - karena sesama anak bangsa pun sudah tega dan sudah cukup untuk memeras, menjajah, memiskinkan saudaranya sendiri.
Kita tidak sulit mencari dukun yg akan senang hati menyantet dukun lain - apabila bayarannya lebih mahal. Dia tidak akan bertanya 2kali - asal harganya pas, yang penting "saya" menang, yang penting "saya" dapat uang. Tidak ada yang berpikir "kita" nanti bagaimana?
Masa depan bangsa 2020? Saya pesimis. Bila tidak ada perubahan, pergerakan ini akan bergulir menjadi sentimen kedaerahan yang kejam, dan bagai bola salju yang bertambah besar, hanya akan menambah bencana, ditunjang dengan bocornya 6,7 triliun Century, BLBI 600 triliun berbunga, Hambalang dan Wisma Atlet (bahkan hasil korupsinya pun tidak perlu dikembalikan). Mau kemana bangsa ini?
Ingat, Belanda tidak perlu menjajah Indonesia. Kita sudah repot dipimpin oleh pemuka-pemuka masyarakat yang biadab, bodoh dan egois.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar